Idea Journal 8.0

Diskusi project saya bersama peter berlanjut. Kami masih dengan konsep dasar yang sama yaitu terjadinya mental illness di kalangan mahasiswa yang diakibatkan OSPEK yang keras atau merupakan sebuah bentuk senioritas.

-Setelah memutuskan proyek yang mau digarap bersama, coba kalian identifikasi (seperti proses kreatif proyek individual):

Setelah diskusi yang saya lakukan bersama partner saya peter, untuk identifikasi secara general mengenai project kami, berikut merupakan gambaran lebih lanjutnya:

Pre event:
ONLINE
campaign dengan sosial media tiktok dan sosial media lain yang digemari mahasiswa yakni seperti LINE, Instagram, dan Twitter dengan gagasan/ide dasar yang bertajuk anti bullying. Nanti pemaparannya akan dilakukan secara general di awal, mengenai apa itu mental health, mental illness, apa itu bullying, dan korelasi keduanya. Dalam melakukan kampanye, kami akan bekerja sama dengan seluruh badan/organisasi kemahasiswaan mulai dari himpunan jurusan hingga BEM UI. Ini

OFFLINE
-Seminar anti bullying (offline).
seminar ini diadakan dengan target audience yakni para mahasiswa baru dengan tujuan untuk meningkatkan awareness dan keberanian. Maksudnya yaitu mereka akan dibekali dengan pengetahuan mana aksi yang sudah masuk dalam kategori bullying, mengingat masih banyaknya orang yang tidak sadar dan membiarkan, padahal sebenarnya dirinya sudah menjadi korban bully. Selain itu juga agar meningkatkan keberanian untuk speak-up jika menjadi korban dan tidak segan untukmenghubungi pihak yang berwenang di kampus.

Main event
OFFLINE
-Mental Health Test setiap semester.
Ditujukan untuk mengetahui kondisi setiap mahasiswa dengan tujuan baik yaitu untuk memfasilitasi mereka yang membutuhkan bantuan

–1. Apakah ada kompetitor/produk & jasa/kampanye sejenis?

Untuk project ini, sebenarnya terdapat kompetitor di UI sendiri. Diantaranya yang menjadi pesaing kami yaitu UI Sehat Mental.

2. Jelaskan mengapa audiens kalian perlu memakai produk/jasa atau mendengarkan kampanye kalian? Apa sih yang membuat proyek kalian spesial?

Project yang kami rancang ini terdiferensiasi dan memiliki ciri khas tersendiri, yakni membawa isu utama bullying, terutama yang bersangkutan dengan OSPEK di kampus dan senioritas yang mungkin terjadi. Hal ini kami rasa akan cukup bisa manarik perhatian target audiens bisa engange dengan project kami, yakni karena isu yang dibawa sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa, terutama para mahasiswa baru yang rentan terkena imbas OSPEK berbau senioritas. Selain itu, jenis bullying lain juga kerap terjadi di aktivitas sehari-hari mahasiswa UI (cyber bullying, body shaming, relational bullying, toxic seniority, toxic masculinity, dan lain sebagainya).

3. Kendala/kelemahan proyek yang sedang kalian garap apa saja?

Kelemahan project kami yaitu cakupannya yang masih di tingkat internal yakni UI, belum mencover keseluruhan mahasiswa di suatu daerah besar.

Sekiannn dan terima kasih ❤

Idea Journal 7.0

Setelah membuat proposal mengenai kesehatan mental di kalangan mahasiswa UI, selanjutnya bersama kawan kelompok saya yaitu Peter kami berencana membuat project baru.

Karena cukup banyaknya perbedaan dari masing-masing project kami yang sebelumnya, maka untuk project collab ini kami berencana membuat sesuatu yang baru dengan tetap memakai unsur-unsur yang ada pada project kami sebelumnya.

Diskusi project kami belum sampai teknis detail, baru konsep dasar yang nantinya akan kami diskusikan bersama di kemudian hari, berikut gambar singkat atas project proposal kami:

Tema besar : Mental Health

Isu/Tema: Bullying

Audience : Mahasiswa UI

Bentuk Kampanye : Online & Offline

Berdasakan diskusi saya dan peter beberapa waktu lalu, kami berencana mengangkat isu Bullying dengan konteks OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) di Fakultas atau jurusan di Universitas Indonesia. Saya sendiri sering mendengar bahwa beberapa kampus masih menerapkan sistem yang cukup ‘keras’, berbeda dengan OSPEK yang dijalani di fakultas kami, FISIP yang sangat menyenangkan. Bahkan teman saya sendiri yang masuk di UI tahun lalu, masuk ke RS karena mengalami gangguan mental dan isunya karena OSPEK di fakultas atau jurusannya yang keras.

Untuk memenuhi tugas mata kuliah PPDK pada semester lalu, saya berkesempatan untuk membaca jurnal penelitian KSM Eka Prasetya UI mengenai OSPEK di fakultas dan jurusan di UI. Hasilnya, beberapa responden mereka merasa terdapat kekerasan yang dilakukan yang menurut mereka sebenarnya tidak cukup beresensi.

Sekian gambaran dasar terkait Project Plan saya dan peter, terima kasihh ❤

IDEA JOURNAL 6.0

Setelah memfiksasi project kreatif apa yang saya angkat pada Idea Journal sebelumnya, pada Idea Journal kali ini saya akan bercerita terkait kritik maupun saran yang saya dapatkan dari teman sekelas saya ketika melakukan diskusi pada pertemuan kelas sebelumnya.

Jika teman-teman pembaca mengikuti Idea Journal yang saya buat sejak awal,  teman-teman pasti tahu bahwa isu yang diangkat adalah mental health yang berfokus pada mental illness di lingkungan Pendidikan formal, khususnya kampus. Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, banyak dari mahasiswa yang sebenarnya mengalami mental issue yang berakibat dari banyak faktor. Sayangnya, mereka yang mengalaminya sering kali enggan untuk meminta pertolongan atau berusaha berkonsultasi dengan pihak yang master tentang hal ini. Maka dari itu, saya ingin mengupayakan agar pihak kampus turun tangan untuk membantu masalah yang menimpa mahasiswanya, yaitu melalui Mental Health Test yang diselenggarakan untuk para mahasiswa. Mahasiswa yang positif cenderung mengalami mental illness akan difasilitasi untuk menemui pihak yang ahli dibidangnya yakni psikolog/psikiater yang diharap dapat membantu mereka. Berbeda dengan fasilitas sebelumnya yang menyediakan konselor dengan pasif yang hanya akan menerima dan membantu mahasiswanya apabila mereka sudah datang untuk mencari bantuan, program ini bertujuan untuk mencari tahu kadar kesehatan mental setiap anak, menghubungi dan membantu mereka yang mengalami mental illness, juga berupaya untuk menurunkan angka penderitanya dikalangan mahasiswa. Nantinya, kampus juga akan bekerja sama dengan BEM kampus dalam menciptakan hypenya.

Dari diskusi bersama teman kemarin, terdapat tiga poin penting yang menjadi pembahasan, pertama, banyak orang merasa bahwa apa yang dialaminya merupakan sesuatu yang bersifat personal sehingga sulit untuk diungkapkan dan mereka takut untuk bercerita. Kedua, kapan waktu dilaksanakannya akan berpengaruh pada hasil tes setiap orang mengingat beda waktu akan dapat berbeda pula kondisi orang saat menjalani test yang diadakan. Ketiga, ditakutkan mahasiswa yang mengetahui bahwa dirinya positif mengalami mental illness malah menjadi downdan minder.

Berdasarkan beberapa pertimbangan yang mengarah pada kritik terhadap project yang saya usung, berikut merupakan beberapa ide kreatif yang muncul berupa tindakan preventif yang akan saya terapkan:

  1. Menjamin bahwa segala data yang para mahasiswa berikan baik dalam testmaupun konsultasi pribadi bersama psikolog/psikiater yang menjadi fasilitator aman dan dirahasiakan
  2. Test akan diadakan dalam periode tertentu (misal setiap tiga bulan sekali)
  3. Kampus akan mengusahakan adanya kampanye berisikan pesan bahwa it’s okay for having mental issue, it’s normal, and seeking for help is a good thing!

OIYAA untuk nama projectnya sejauh ini yaitu : Kampus Sigap Mental Sehat
tapi ada kemungkinan namanya direvisi kalo muncul ide nama yg lebih oke hehehhh

Sekian Ide Journal kali ini, gak mau terlalu banyak spoiler heheh spoilernya di proposal aja ya genk, salam semangat dam salam byebye corona HIHI BYE! ^^

IDEA JOURNAL 5.0

LET’S SOLVE THE MENTAL DISORDER PROBLEM BY THINKING CREATIVELY!

LET’S SOLVE THE MENTAL DISORDER PROBLEM BY THINKING CREATIVELY!

Pada Idea Journal sebelumnya (Idea Journal 4.0), saya mengemukakan ide untuk berusaha menekan angka mental disorders dengan cara mewajibkan setiap pelajar atau mahasiswa untuk pergi menemui konselor/psikolog secara rutin oleh pihak institusi pendidikan formal di mana mereka berada. Setelah mengikuti kelas CT minggu lalu, bertanya langsung kepada beberapa orang di kampus, juga melakukan survey secara online, pada akhirnya saya memutuskan untuk membuat project dengan ide yang berbeda dengan yang sebelumya. 

Dengan maraknya fenomena mental disorders/illness dikalangan  pelajar dan mahasiswa, saya ingin membuat project di mana (masih dengan pihak ke-3 yang sama) yakni institusi pendidikan formal seperti universitas atau perguruan tinggi lainnya terlibat langsung dalam menangani masalah ini. Setelah melakukan survey yang diisi oleh 32 responden yang merupakan mahasiswa aktif baik di UI maupun luar (but mostly UI students), kebanyakkan dari mereka merasa bahwa faktor eksternal dari luar diri sang penderita mental illness yang berpotensi mampu untuk secara signifikan membantu menangani masalah mentalnya ialah psikolog (berkonsultasi dengan psikolog). Selain itu, 93,8% responden merasa bahwa institusi Pendidikan seperti universitas perlu turun tangan langsung terkait kasus mental issues ini yang terjadi menimpa para mahasiswanya. 

Berangkat dari kedua gagasan ini sini, berfokus pada mahasiswa, saya mengusung adanya penerapan sistem mental health test yang dilakukan secara serentak untuk setiap mahasiswa di lembaga Pendidikan formal yakni perguruan tinggi. Setelah melakukan tes ini, setiap anak yang dinyatakan positif memiliki kecenderungan mental health akan diberi tindakan lebih lanjut oleh kampusnya, yakni dengan menghubungi mereka kemudian memberi mereka fasilitas (yang sifatnya cenderung wajib) untuk dipertemukan dengan psikolog. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masih mahasiswa yang mengalami mental disorders ini. Dalam pelaksanaannya, selain bekerja sama dengan fakultas psikologi maupun lembaga kepentingan terkait, saya ingin kampus bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat universitas (atau bisa jadi kemudian diteruskan ke fakultas) dalam melakukan publikasi, meningkatkan hype menjelang test, dan sebagainya. Selain itu, kampus juga diharapkan memberi tugas kepada BEM untuk melakukan atau mengadakan social campaign baik online maupun offline atau juga cara-cara kreatif lain untuk membangun suasanya informatif dan bersahabat untuk setiap mahasiswa.

Project ini memang belum memiliki nama, meskipun begitu saya sangat yakin dengan project ini dan pengimplementasiannya suatu hari nanti. 

Jujur rasanya pgn bgt propose ini ke UI beneran! HAHAH

SEKIANNNN ❤

IDEA JOURNAL 4.0

-BERPIKIR KREATIF, BERUPAYA INISIATIF-

Setelah berbicara seputar mental health secara umum dan menceritakan pengalaman terkait isu ini, selanjutnya saya akan mengerucutkan topik mental health untuk dibahas dan diperdalam lagi lebih lanjut . 

Terganggunya kesehatan mental dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Intinya, hal-hal yang menjadi faktornya pasti merupakan sesuatu yang bermakna besar dan berpengaruh bagi diri seseorang (dalam hal negatif), terutama kesehatan emosionalnya.  

Gangguan mental dapat dialami oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Menariknya, selain orang dewasa, gangguan mental ternyata sering dialami oleh para pelajar atau mahasiswa, terutama mereka yang baru saja melanjutkan studinya ke jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Banyak kasus gangguan mental yang menimpa mahasiswa baru dengan alasan sulitnya beradaptasi dengan lingkungan baru, culture shock (terutama mahasiswa rantau), juga karena berbagai tuntutan akademis dan organisasi yang dihadapi. Tidak dapat dipungkiri bahwa transisi dari masa SMA menuju kuliah merupakan sebuah tahap yang dapat dibilang sulit bagi banyak mahasiswa. Dilansir dari portal berita CNN Indonesia, sebuah penelitian yang diinisiasi oleh WHO (World Health organization) menemukan bahwa satu dari tiga mahasiswa baru dilaporkan mengalami gejala mental issue alias gangguan mental.

Pelajar dan mahasiswa berada pada usia produktif, hal ini membuat mereka dapat belajar melakukan banyak hal. Selain itu, mereka memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi. Dapat dikatakan bahwa hal ini menjadi dasar mengapa banyak pelajar dan mahasiswa berlomba-lomba untuk menggali banyak ilmu pengetahuan dan berupaya mengukir banyak prestasi. Sayangnya, sering kali perilaku baik ini tidak didukung dengan mental yang kuat. Mereka cenderung merasa khawatir berlebihan dengan kondisi akademis, cepat menjadi insecure dalam banyak hal, salah satunya contohnya yaitu mengalami kebingungan akan kehidupan pascakampusnya, juga menjadi mudah down saat mendapat hasil yang tidak sesuai ekspektasi maupun ketika mengalami kegagalan. Hal-hal ini memicu mereka untuk menjadi membenci diri sendiri dan cenderung iri dengan pencapaian yang didapatkan teman-sebayanya. 

Melihat hal ini, saya termotivasi dan tertarik untuk berupaya meminimalisir terjadinya mental issue di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mengapa demikian? Sebab saya pribadi melihat isu ini menjadi sangat penting untuk diangkat demi mendapatkan solusi tepat bagi para penderitanya yang khususnya sedang mengenyam pendidikan, mengingat mereka adalah pelajar dan mahasiswa yakni agen pelopor atau generasi utama yang diharapkan dapat membawa kemajuan bangsa Indonesia pada masa yang akan datang. 

Yang menjadi concern utama saya terkait isu mental health dalam lingkup pelajar dan mahasiswa ialah bagaimana menumbuhkan self-love dalam diri setiap individunya. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa lingkungan sekitar berpotensi menimbulkan rasa iri yang berujung pada kebencian terhadap diri sendiri. Maka dari itu, menumbuhkan rasa cinta dan menghargai diri sendiri merupakan salah satu cara yang menurut saya efektif dalam berupaya memerangi mental issue di kalangan terpelajar.

Untuk merealisasikan pemikiran ini, rencana metode yang dilakukan yaitu dalam bentuk diadakannya jasa konseling wajib yang diadvokasikan lembaga pendidikan yang bersangkutan kepada para pelajar/mahasiswanya. Mekanisme secara detilnya dapat disesuaikan secara mandiri oleh masing-masing lembaga, namun kebijakan pokok yang wajib diterapkan dalam setiap institusi pendidikan formal yaitu mengadakan pertemuan wajib bagi setiap pelajar/mahasiswanya dengan pembimbing konseling atau bahkan mungkin psikolog secara rutin, misalnya terjadwal setiap satu bulan sekali, atau dengan opsi jadwal lainnya yang bisa disesuaikan oleh masing-masing institusi. Dapat pula misalnya menambahkan kebijakan lain sebagai penunjang, misalnya, bagi pelajar/mahasiswa yang positif memang sedang dalam masalah dan mengalami mental issue bisa diberikan sarana konsultasi dengan waktu atau frekuensi pertemuan yang lebih banyak agar mendapat perhatian lebih. Dengan adanya sarana advokasi semacam ini, diharapkan setiap pelajar/mahasiswa dapat merasa lebih nyaman dan tenang dalam menempuh pendidikan. 

Sebagai tambahan, metode berikutnya yaitu lembaga Pendidikan digencarkan untuk memasang banyak bingkai/gambar yang berisikan kutipan atau quotes motivasional atau sejenisnya di lingkungan kampus yang mudah dilihat dan dibaca para pelajar/mahasiswa, misalna di area gerbang utama, kelas, laboraturium, bahkan kantin. Dengan terpapar quotes yang sifatnya motivasional di lingkungan belajar, saya percaya bahwa kalimat-kalimat tersebut mampu menjadi pengingat bagi mereka dalam menjalani keseharian dalam lingkungannya.

Saya berharap semoga ide yang saya tawarkan ini dapat sedikit demi sedikit mengurangi fenomena gangguan mental yang menimpa pelajar/mahasiswa.

Sekian

(Jujur benar-benar lupa banget kalau ternyata deadlinenya 23.00 bukan 00.00…. maaf sebelumnya mba… ☹️🙏🏻)

IDEA JOURNAL 3.0

MENTAL HEALTH

Mental Health atau yang biasa dikenal dengan kesehatan mental mengacu pada segala sesuatu yang terkait dengan kondisi emosional dan psikologis. Jika mendengar atau membicarakan tentang kesehatan mental, yang pertama kali terlintas di kepala saya ialah terkait kualitas hidup seseorang, entah bahagia, terpuruk, atau mungkin campuran keduanya? Atau kondisi lainnya yang intinya berdampak pada mental seseorang. Akhir-akhir ini kian ramai orang membicarakan tentang kesehatan mental, sebab hal ini sebenarnya sangat penting untuk didiskusikan karena berkaitan dengan psikologis manusia. 

Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang berbekas dan meninggalkan dampak bisa jadi signifikan bagi perilaku dan kepribadian seseorang. Apabila kejadian yang berarti tersebut tergolong tidak mengenakkan dan cenderung meninggalkan kesan buruk yang mendalam, hal ini tentunya dapat memicu terganggunya kesehatan mental bagi seseorang. Apabila kesehatan mental terganggu, maka terdapat indikasi seseorang mengalami gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental ini tentunya sangat merugikan bagi sang pengidap. Mengapa? Sebab hadirnya gangguan tersebut mampu mengubah seseorang dalam caranya ketika berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, menghadapi keadaan, membuat pilihan, dan berbagai kondisi lainnya. Bahkan, tak jarang ditemukan banyak orang yang mengidap gangguan mental melakukan tindakan yang menyakiti dirinya. 

Berbicar soal mental health, saya sendiri rasanya pernah mengalami keadaan yang tidak mengenakkan bagi kesehatan mental diri saya. Masa-masa awal menjadi seorang mahasiswa ketika semester 1 bagi saya rasanya cukup begitu menantang, dan tantangan tersebut pada masanya saya anggap sebagai sesuatu yang sangat besar dan amat berat. Dapat dikatakan bahwa saya dapat merasakan hal tersebut dan merasa bahwa saya pada saat berada di titik terendah hidup saya, yaitu ketika melihat sekeliling saya ternyata orang-orang yang sangat pintar dan memiliki segudang pengalaman atau pun prestasi. Pemikiran saya pada saat itu tidak jernih dan hanya melihat dari perspektif yang sempit. Berada di SMA favorit sebelumnya ternyata tidak menjamin diri saya dapat merasa biasa-biasa saja dan enjoy dengan teman-teman fakultas yang super cerdas. Kala itu, melihat teman sekelas yang mampu berargumen secara kritis dan terkesan berpengetahuan luas membuat saya takut. Selain itu, lingkungan pertemanan yang ambisius dengan organisasi dan kepanitiaan juga cukup membuat saya risau. Dengan segala kebingungan dan kekosongan itu saya memberanikan diri untuk berbicara dengan Mama dan singkat cerita saya pun pergi ke psikolog di fakultas sebelah. Inti dari pembicaraan psikolog tersebut ialah bahwa saya harus memperbesar porsi rasionalitas otak saya ketimbang porsi emosionalnya

SEKIANNNNN

IDEA JOURNAL 2.0

BERPIKIR KREATIF? AKU DATANG!

Beberapa dari teknik berpikir kreatif yang dipelajari minggu lalu pernah saya terapkan dalam kehidupan saya pribadi, baik secara individual maupun berkelompok, namun terkadang diri sendiri seringkali tidak menyadari bahwa proses-proses tersebut ternyata melibatkan kemampuan berpikir kreatif. 

Teknik yang paling efektif dalam memecahkan masalah menurut saya yaitu :

>>Brainstorming

Dalam berusaha mencari jalan keluar dari suatu masalah, sebuah kelompok alangkah baiknya melakukan brainstorming,sebab metode ini memungkinkan setiap anggota kelompok untuk menyuarakan pendapatnya dan terdapat peluang untuk mengombinasikan suara-suara dari setiap orang. Saya pribadi melihat bahwa teknik ini bersifat sangat demokratis yang mana merupakan sebuah nilai yang memang seharusnya dijunjung tinggi setiap individu dalam bekerja secara kolektif. 

>>Not commited to one solution only

Menghindari untuk hanya bergantung dengan hanya satu jalan keluar atau berpikir bahwa tidak ada satu pun opsi lain yang dapat digarap juga penting. Mengapa demikian? Sebab menurut saya, pola pemikiran seperti ini sangat sempit dan tidak melihat sebuah masalah dengan tinjauan pemikiran yang kritis. Yang harus diingat dalam proses mencari jalan keluar adalah bahwa yang menjadi tujuan utama yaitu memecahkan masalah, bukan mendapatkan solusi. 

Teknik berpikir kreatif yang baru dipelajari dan menarik bagi saya ialah

>> Membicarakan isu atau masalah yang sedang dihadapi dengan orang lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan isu atau masalah tersebut. Karena biasanya, setiap ada masalah, orang seringkali membiasakan diri untuk bertanya kepada kawan yang juga sedang menghadapi masalah itu atau orang-orang yang pernah berada dalam situasi yang dialami dan berpengalaman.

>> Edward de Bono’s Six Thinking Hats juga merupakan teknik berpikir yang belum pernah saya ketahui sebelumnya,  menurut saya teknik ini akan bagus untuk diterapkan dalam proses pemecahan masalah dalam kelompok, sebab teknik ini menjabarkan satu per satu aspek pemikiran dalam proses pemecahan masalah.

CILA’S IDEA

Berbicara mengenai ide baru, sejak lama isi kepala saya selalu prihatin terhadap kondisi media massa Indonesia yang tingkat independensinya sangat minim. Menghadapi kenyataan bahwa para pemilik media besar di negeri ini banyak yang merupakan seorang politisi sungguh membuat kondisi kualitas informasi yang sampai kepada masyarakat seringkali menjadi ambigu, pasalnya, para pemilik modal ini memasukkan unsur kepentingan politiknya. Terkait hal ini, saya sering berpikir bahwa mungkin salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk menciptakan lingkup media massa  yang independen yaitu dengan cara membuat aturan atau undang-undang terkait kepemilikkan media massa dengan salah satu persyaratan utamannya yakni melarang media massa yang fungsinya melakukan pemberian informasi kepada masyarakat ini dimilikki oleh seorang politisi atau memiliki unsur politik dalam menjalankan organisasi medianya. Selain itu, apabila di tengah perjalanannya organisasi media tersebut sang pemilik maupun jajarannya diketahui melakukan praktek politik yang merugikan khalayak dalam bentuk apapun dapat akan dikenakan sanksi.

Pengembangan ide ini sepertinya harus dilihat juga dari berbagai aspek dan sudut pandang, misalnya, apakah dengan hadirnya peraturan tersebut keberpihakkan media secara perlahan dapat benar-benar berkurang? Bagaimana reaksi masyarakat terhadap peraturan ini? Lalu, bagaimana nasib media massa dan para pemiliknya yang telah ada dan berjalan sebelumnya? Berpikir kreatif dalam merumuskan sebuah kebijakan sebagai sebuah alternatif dalam pemecahan masalah tentunya sangat dibutuhkan. Metode Six Thinking Hat sepertinya dapat menjadi salah satu opsi tepat dalam menghadapi masalah keberpihakkan media di Indonesia dengan menelaah satu per satu opsi jawaban dari masalah ini, misalnya mencari dan juga menelaah opsi lain selain membuat peraturan terkait kepemilikkan media massa. Sejauh ini, saya belum mendapatkan ide lain selain membuat peraturan itu, tetapi saya akan menggali lagi alternative lainnya yang mungkin bisa diterapkan dengan mencoba mencari inspirasi baik dengan membaca dan menelusuri hal-hal terkait dan juga mencari tahu melalui orang lain yang menekuni bidang ini maupun yang sama sekali tidak (seperti salah satu cara berpikir kreatif yang disebutkan di atas). 

Sekian pemikiran saya terkait upaya kemajuan negeri ini yang mudah-mudahan [the goal: terciptanya media massa Indonesia yang independen dan tidak berpihak] dapat terwujud suatu saat nanti. 

IDEA JOURNAL 1.0

My Name is Zahira Verhana Aljufri, but please call me Cila, yah!

-CERITA HIDUP CILA-

Jujur, menjadi seorang anak tunggal itu gak enak, kenapa? Soalnya gaada temen main di rumah, walhasil berujung main sama kedua kucing angora yang dipelihara di rumah, Molli dan Milo. Dari kecil, gue emang sukaaa banget kucing, sampai sekarang, kalau ada kucing lewat atau papasan sama gue, bawaannya pengen ngelus, atau yaa minimal bilang “haii”. Aneh yah??? Gak ah, ya itu gue, proud to be a cat person, Yay!

Kembali ke persoalan anak tunggal, sebenarnya, gue tuh aslinya ga tunggal-tunggal banget, but yes it feels like anak tunggal. Kenyataannya, gue punya dua kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, loh??? Trus di mana tunggalnya? Mereka sama gue itu satu papa tapi lain mama, panjang deh ceritanya. Intinya, ya karena tidak seperti adik-kakak pada umumnya, jadi ya otomatis beda rumah. Udah berasa anak tunggal, trus kalau sekarang gue tinggal cuma berduaan aja sama Mama di rumah. Oiya, sebelumnya kami bertiga, ada gue, Mama, juga Jidah. Jidah itu sebutan lain dari Nenek, tetapi versi arabnya. Dari gue kecil, kami tinggal bertiga, sampai suatu hari di tanggal 19 Desember 2016, jidah mengembuskan nafas terakhirnya.. ini menjadi momen di mana pertama kalinya gue kehilangan salah satu orang yang gue sayang untuk selamanya, rasanya campur aduk.. sedih? Banget banget banget.

Lanjut..pasti kepo kenapa gaada papa or bapak or ayahnya ya??? WKWWK ya, lagi-lagi, panjang ceritanya. Intinya orang tua gue pisah sejak umur gue satu tahun. NO NO NO jangan kasihanin gue karena gue anak broken home ya, In fact, ga se-menyedihkan itu kok, ya pasti ada sedihnya, tapi kalau ditinjau dan di lihat secara positif, kembali lagi bahwa segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya, dan gue percaya akan hal itu. Justru kenyataan-kenyataan seperti ini malah membuat gue selalu mencoba menjadi orang yang selalu yakin bahwa akan banyak hal-hal baik di masa depan nantinya, yang penting, jangan lupa untuk selalu melibatkan Tuhan dalam mengambil keputusan.

Kalo berbicara hobi dan cita-cita, dari kecil gue suka banget dunia tarik suara alias nyanyi. Jadi inget, gue diberi hadiah didaftarin les vokal sama mama sehabis gue berhasil masuk SMA favorit di Jakarta, SMAN 28. Asli gue seneng banget bisa les vokal HAHAH. Trus makin ke sini, jujur gue masih suka bermimpi dan berdoa agar suatu hari gue bisa menjadi penyanyi seperti Raisa, tapi yaaaaa kadang ada kecenderungan juga yang cukup besar untuk terjun di bidang media. waktu SMA, kalau lihat presenter yang ada di NET TV gue sangat amat menggebu-gebu, macam ingin bisa seperti mereka. Bahkan sejak zaman SD, kalau lihat Putra Nababan di Seputar Indonesia tuh tergugah bawaannya. Berangkat dari hal-hal seperti ini-lah yang membuat gue tertarik untuk kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UI yang akhirnya membawa gue untuk menerima mata kuliah Creative Thinking ini. Sampai jumpa di Idea Journal berikutnya!! Sebagai penutup, Yuk selalu optimis! 😀

Design a site like this with WordPress.com
Get started