MENTAL HEALTH
Mental Health atau yang biasa dikenal dengan kesehatan mental mengacu pada segala sesuatu yang terkait dengan kondisi emosional dan psikologis. Jika mendengar atau membicarakan tentang kesehatan mental, yang pertama kali terlintas di kepala saya ialah terkait kualitas hidup seseorang, entah bahagia, terpuruk, atau mungkin campuran keduanya? Atau kondisi lainnya yang intinya berdampak pada mental seseorang. Akhir-akhir ini kian ramai orang membicarakan tentang kesehatan mental, sebab hal ini sebenarnya sangat penting untuk didiskusikan karena berkaitan dengan psikologis manusia.
Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang berbekas dan meninggalkan dampak bisa jadi signifikan bagi perilaku dan kepribadian seseorang. Apabila kejadian yang berarti tersebut tergolong tidak mengenakkan dan cenderung meninggalkan kesan buruk yang mendalam, hal ini tentunya dapat memicu terganggunya kesehatan mental bagi seseorang. Apabila kesehatan mental terganggu, maka terdapat indikasi seseorang mengalami gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental ini tentunya sangat merugikan bagi sang pengidap. Mengapa? Sebab hadirnya gangguan tersebut mampu mengubah seseorang dalam caranya ketika berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, menghadapi keadaan, membuat pilihan, dan berbagai kondisi lainnya. Bahkan, tak jarang ditemukan banyak orang yang mengidap gangguan mental melakukan tindakan yang menyakiti dirinya.
Berbicar soal mental health, saya sendiri rasanya pernah mengalami keadaan yang tidak mengenakkan bagi kesehatan mental diri saya. Masa-masa awal menjadi seorang mahasiswa ketika semester 1 bagi saya rasanya cukup begitu menantang, dan tantangan tersebut pada masanya saya anggap sebagai sesuatu yang sangat besar dan amat berat. Dapat dikatakan bahwa saya dapat merasakan hal tersebut dan merasa bahwa saya pada saat berada di titik terendah hidup saya, yaitu ketika melihat sekeliling saya ternyata orang-orang yang sangat pintar dan memiliki segudang pengalaman atau pun prestasi. Pemikiran saya pada saat itu tidak jernih dan hanya melihat dari perspektif yang sempit. Berada di SMA favorit sebelumnya ternyata tidak menjamin diri saya dapat merasa biasa-biasa saja dan enjoy dengan teman-teman fakultas yang super cerdas. Kala itu, melihat teman sekelas yang mampu berargumen secara kritis dan terkesan berpengetahuan luas membuat saya takut. Selain itu, lingkungan pertemanan yang ambisius dengan organisasi dan kepanitiaan juga cukup membuat saya risau. Dengan segala kebingungan dan kekosongan itu saya memberanikan diri untuk berbicara dengan Mama dan singkat cerita saya pun pergi ke psikolog di fakultas sebelah. Inti dari pembicaraan psikolog tersebut ialah bahwa saya harus memperbesar porsi rasionalitas otak saya ketimbang porsi emosionalnya
SEKIANNNNN